Saham Indosat (ISAT) Masih Tertahan di 2025, Apakah 2026 Jadi Titik Balik?

Saham ISAT tertinggal sepanjang 2025, namun strategi penyesuaian harga dan rencana divestasi fiber optik membuka potensi pemulihan kinerja pada 2026.

Saham Indosat (ISAT) Masih Tertahan di 2025, Apakah 2026 Jadi Titik Balik?
📅Wednesday, 17 December 2025
⏱️4 menit baca
#saham#emiten

Pergerakan saham PT Indosat Tbk. (ISAT) sepanjang 2025 terbilang kurang menggembirakan dibandingkan emiten telekomunikasi lain. Saat Telkom Indonesia (TLKM) dan XLSmart (EXCL) mencatatkan kenaikan signifikan, saham ISAT justru bergerak relatif stagnan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor: apakah ISAT kehilangan momentum, atau justru sedang berada dalam fase transisi menuju perbaikan kinerja pada 2026?

Saham Tertinggal di Tengah Reli Sektor Telekomunikasi

Pada penutupan perdagangan Selasa (16/12/2025), saham ISAT berada di level Rp2.380 per saham, tidak jauh berbeda dari posisi awal tahun. Sebaliknya, TLKM telah mencatatkan kenaikan lebih dari 30% secara year-to-date, sementara EXCL melonjak lebih dari 60% pada periode yang sama.

Perbedaan kinerja harga ini mencerminkan perbedaan persepsi pasar terhadap prospek jangka pendek masing-masing emiten, khususnya terkait pertumbuhan pendapatan dan kemampuan menjaga margin.

Tekanan Fundamental Masih Membayangi

Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih ISAT tercatat turun secara tahunan menjadi Rp3,58 triliun. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya pendapatan serta meningkatnya sejumlah beban operasional, termasuk biaya penyelenggara jasa dan penyusutan.

Manajemen Indosat menyebutkan bahwa tekanan tersebut sebagian berhasil diredam melalui efisiensi biaya, terutama pada pos karyawan dan pemasaran. Namun, pasar menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengangkat profitabilitas secara signifikan dalam jangka pendek.

Yield Data Jadi Titik Lemah Sementara

Salah satu faktor yang menjadi sorotan analis adalah yield data ISAT yang masih tertahan. Yield data tercatat relatif datar, bahkan sedikit menurun secara kuartalan, tertinggal dibandingkan pesaing yang mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit.

Manajemen menjelaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara, dipengaruhi oleh program promosi dan fitur perlindungan konsumen yang berdampak pada pola penggunaan data. Pasar kini menunggu apakah strategi harga baru mampu mengubah tren tersebut secara berkelanjutan.

Normalisasi Harga Mulai Terlihat

Memasuki kuartal IV/2025, Indosat mulai mengambil langkah penyesuaian harga pada sejumlah paket utama. Produk IM3 mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, baik untuk paket bulanan maupun harian.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal awal normalisasi harga, setelah periode persaingan tarif yang ketat di industri telekomunikasi. Analis menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi fondasi perbaikan pendapatan dan margin pada 2026.

Outlook 2026: Pertumbuhan Bertahap

Dengan strategi harga yang mulai disesuaikan, analis memperkirakan pendapatan ISAT akan kembali tumbuh pada 2026. Kontributor utama berasal dari bisnis mobile, ditambah potensi pendapatan dari segmen GPU-as-a-Service (GPUaaS).

Yield data ISAT saat ini masih berada di level terendah di antara pesaing dan di bawah rata-rata historis. Kondisi ini justru membuka ruang pemulihan apabila normalisasi harga berjalan sesuai rencana. ARPU juga diproyeksikan meningkat secara bertahap pada 2026.

Valuasi dan Pandangan Analis

Mayoritas analis masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ISAT. Target harga konsensus berada di kisaran Rp3.000 per saham dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan valuasi yang relatif menarik dibandingkan potensi pemulihan laba.

Valuasi ISAT yang berada di bawah rata-rata historis dinilai memberikan ruang kenaikan, terutama jika strategi harga dan efisiensi mulai tercermin pada kinerja keuangan.

Divestasi Fiber Optik Sebagai Katalis Tambahan

Sentimen positif lain datang dari rencana divestasi sebagian bisnis fiber optik. Indosat dikabarkan berencana melepas mayoritas kepemilikan dengan valuasi yang cukup besar.

Langkah ini dinilai dapat membuka nilai aset tersembunyi sekaligus membuat perusahaan lebih fokus pada bisnis inti. Strategi serupa sebelumnya telah diterapkan oleh emiten telekomunikasi lain dan mendapat respons positif dari pasar.

Kesimpulan

Saham ISAT memang tertinggal sepanjang 2025, namun kondisi tersebut tidak serta-merta mencerminkan hilangnya prospek jangka menengah. Normalisasi harga layanan, potensi peningkatan ARPU, serta aksi korporasi berupa divestasi fiber optik menjadi faktor yang patut dicermati menjelang 2026.

Bagi investor, ISAT lebih tepat dipandang sebagai saham pemulihan bertahap, dengan potensi kenaikan yang bergantung pada eksekusi strategi manajemen dan dinamika industri telekomunikasi.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.