Pandangan JP Morgan terhadap Saham EXCL Usai Divestasi MORA

JP Morgan menilai divestasi MORA memberi fleksibilitas keuangan bagi EXCL, namun risiko leverage, arus kas, dan pangsa pasar masih menjadi perhatian utama.

Pandangan JP Morgan terhadap Saham EXCL Usai Divestasi MORA
📅Friday, 19 December 2025
⏱️3 menit baca
#saham#emiten

Ringkasan Singkat

Saham PT XL Axiata Tbk. (EXCL) melanjutkan penguatan setelah perusahaan merampungkan divestasi kepemilikan saham di PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA). Meski sentimen pasar cenderung positif, JP Morgan menilai tantangan struktural EXCL masih cukup besar dalam jangka menengah.


Pergerakan Saham dan Fakta Transaksi

Hingga Jumat (19/12/2025) pukul 11.38 WIB, saham EXCL naik 2,98% ke Rp3.900 per saham, dengan kenaikan 68,89% secara year to date (YtD).

Dalam transaksi divestasi tersebut:

  • Harga penjualan saham MORA: Rp432 per saham
  • Dana segar yang diterima EXCL: sekitar Rp1,87 triliun
  • Kepemilikan yang dilepas: 4,33 miliar saham atau 18,32% saham beredar MORA

Aksi ini meningkatkan fleksibilitas neraca EXCL, terutama di tengah kebutuhan belanja modal dan integrasi pascamerger.


Pandangan JP Morgan

Analis JP Morgan yang dipimpin oleh Ranjan Sharma menilai sentimen positif terhadap saham EXCL saat ini turut dipengaruhi oleh ekspektasi dividen dan potensi aksi korporasi lanjutan, termasuk merger dan akuisisi.

EXCL sebelumnya telah membagikan:

  • Dividen tunai Rp2,89 triliun
  • Setara Rp159 per saham
  • Dengan payout ratio sekitar 30,6% dari laba ditahan tahun buku 2024

Selain itu, EXCL juga mengumumkan dividen khusus yang bersumber dari saham treasuri, yang memperkuat persepsi pasar terhadap potensi distribusi kas jangka pendek.

Namun, JP Morgan mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada dividen berisiko menekan nilai jangka panjang perusahaan, terutama jika mengorbankan investasi jaringan dan penguatan arus kas.


Risiko Fundamental yang Disorot

JP Morgan menyoroti beberapa risiko utama yang masih membayangi EXCL:

  1. Leverage relatif tinggi, yang membatasi fleksibilitas keuangan
  2. Arus kas bebas terbatas, terutama di tengah fase capex besar
  3. Risiko kurangnya investasi jaringan, khususnya di wilayah Jawa
  4. Tekanan pangsa pasar, baik di segmen seluler maupun broadband

Jumlah pelanggan seluler EXCL tercatat turun sekitar 15 juta pelanggan sejak pengumuman merger dengan Smartfren (FREN). Sementara itu, pelanggan broadband tetap turun sekitar 7% dari kuartal I hingga kuartal III/2025.

Pada kuartal III/2025, total pelanggan EXCL mencapai 79,6 juta, tumbuh 36% secara tahunan, namun turun 4% secara kuartalan, mencerminkan tantangan retensi pelanggan pascamerger.


Proyeksi Keuangan dan Valuasi

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, JP Morgan mempertahankan rekomendasi underweight untuk saham EXCL.

Proyeksi JP Morgan:

  • EBITDA 2026: Rp20,87 triliun
  • EBITDA 2027: Rp21,01 triliun
  • Laba bersih 2026: Rp1,79 triliun
  • Laba bersih 2027: Rp1,45 triliun

Kenaikan proyeksi laba bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan beban depresiasi dan amortisasi, seiring percepatan penyusutan aset senilai Rp3,6 triliun pada 2025. JP Morgan menilai peningkatan ini bersifat teknis dan belum mencerminkan perbaikan fundamental bisnis.

Target harga saham EXCL ditetapkan di kisaran Rp1.600–Rp1.640 hingga akhir 2026.


Faktor Upside yang Perlu Dicermati

Meski bersikap konservatif, JP Morgan tetap membuka potensi kenaikan jika beberapa kondisi terpenuhi:

  • Kenaikan ARPU 5% berpotensi meningkatkan laba bersih 2026 hingga 70%
  • Keberhasilan sinergi merger dengan target sinergi prapajak tahunan US$300–US$400 juta
  • Disiplin capex dan perbaikan return on invested capital (ROIC)

Eksekusi strategi dan konsistensi kinerja operasional menjadi kunci untuk membalikkan pandangan negatif tersebut.


Kesimpulan

Divestasi MORA memberi EXCL ruang finansial yang lebih longgar, namun menurut JP Morgan, tantangan struktural seperti leverage, investasi jaringan, dan stabilitas pangsa pasar masih menjadi faktor penentu kinerja jangka menengah. Pergerakan saham ke depan akan sangat bergantung pada keberhasilan integrasi dan kemampuan meningkatkan kualitas pendapatan, bukan semata distribusi dividen.


Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi berdasarkan data publik dan pandangan analis. Bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.